Sabtu, 23 Oktober 2021

Tindakan Aksi Nyata Modul 3.3 Pengelolaan Program yang berdampak pada murid

 Ini adalah tindakan aksi nyata yang saya lakukan. Semoga bermanfaat



Dokumentasi kegiatan
 Sosialisasi program secara garis besar pada saat FORMASI hari Jumat, 8 Oktober 2021

 Pembahasan program MABATIK (MAinan BAhan plasTIK) pada saat FORMASI hari Jumat, tgl. 15 Oktober 2021 dan agenda guru selama 1 minggu ke depan

 Beberapa karya guru. Ada yang sudah selesai dan ada yang masih berproses

 Diskusi dengan orang tua murid tentang program secara garis besar pada saat setelah pembelajaran tatap muka selesai 

 Para orang tua berkreasi memanfaatkan bahan plastik bekas

  Hasil karya orang tua murid

 Guru beserta orang tua murid kelompok B1

 Proses pengumpulan bahan plastik bekas

 Proses ini terus berlangsung, sehingga box nya selalu terisi lagi bahkan melebihi kapasitas

 Proses pembuatan APE oleh guru kelas

Menghias ikan dari tutup botol

 Proses menghias celengan

 Hasil kreasi para murid

 Proses mendesain mobil-mobilan

 Hasil kreasi para murid
hasil kreasi telepon-teleponan

Bermain BONA (Bola corona) dan Menara Susun

Video Singkat






Jumat, 08 Oktober 2021

Tindakan Aksi Nyata Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya

Pemanfaatan Aset Sekolah untuk Menanamkan Perilaku Hidup Bersih bagi Anak Usia Dini Melalui Program 'SASIH'
disusun oleh Noviyanti, S.Pd.I
CGP Angkatan 2 Kabupaten Cianjur





Latar Belakang

Pendidikan Anak Usia Dini menurut UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 1 adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.

Masa anak usia dini disebut juga dengan golden age karena pada tahap inilah perkembangan otak menempati posisi yang paling pesat yakni mencapai 80% perkembangan otak. Oleh karena itu, pemberian pendidikan terutama kebersihan dan kesehatan pada anak usia dini sangat baik dilakukan. Karena anak usia dini memiliki kemampuan memori yang kuat sehingga pendidikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) akan berpeluang besar menjadi suatu kebiasaan di tahapan kehidupan selanjutnya.

Anak usia dini akan tumbuh dan berkembang secara optimal jika berada dalam lingkungan yang mendukung baik di lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat. Sekolah TK memiliki aset yang dapat diberdayakan sehingga menjadi sasaran strategis untuk menanamkan nilai-nilai positif kepada anak usia dini serta memperkenalkan dan membiasakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Program sekolah sudah dirancang sedemikian rupa agar dapat menanamkan kebiasaan PHBS. Beberapa program sekolah sudah berhasil dilaksanakan dengan memberdayakan aset sekolah. Lingkungan yang bersih dan nyaman; sarana prasarana kebersihan dan kesehatan yang memadai; pemeriksaan pertumbuhan anak secara rutin; pemberian makanan tambahan; dan kurikulum pembelajaran yang memetakan PHBS sebagai salah satu materi pembelajaran pada anak usia dini.

Berdasarkan hal tersebut, saya merancang sebuah program 'SASIH' (SAdar berSIH) yang akan mendorong murid melakukan pola hidup bersih melalui kegiatan menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitarnya sehingga menjadi suatu pembiasaan.

Tujuan

1. Memberdayakan aset sekolah dengan menggunakan pendekatan berbasis aset (Asset Based Thinking)
2. Murid memiliki kesadaran untuk selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitarnya tanpa harus dipaksa

Tolak Ukur

1. Murid dapat menjaga kebersihan diri
2. Murid dapat menjaga kebersihan lingkungan sekitarnya baik di sekolah atau di rumah

Lini Masa Tindakan yang Dibutuhkan (BAGJA)


Saya merancang program ini bertepatan dengan kegiatan pembelajaran bertema Kebutuhanku sub tema Keamanan, Kebersihan dan Kesehatan (K3) sehingga program yang dirancang sesuai dengan kegiatan pembelajaran. Saya sudah mendiskusikan program bersama kepala sekolah dan  guru pada hari jumat, 1 Oktober 2021 dan teknis pelaksanaan dimulai hari Senin, 4 Oktober 2021 s/d Jumat, 8 Oktober 2021 dengan ketentuan pembelajaran tatap muka hari senin (4 Oktober 2021) dan rabu (6 Oktober 2021) sedangkan hari lainnya murid lebih banyak beraktivitas di rumah dengan bimbingan orang tua dan guru (melalui grup whatsapp).


Dukungan yang dibutuhkan

1. Aset yang dimiliki sekolah dan alat pendukung yang dibutuhkan terutama di bidang kebersihan
2. Pihak-pihak yang mendukung jalannya kegiatan yaitu kepala sekolah, guru, para orang tua murid dan para murid. Dukungan dari kepala sekolah dan rekan sejawat dibutuhkan untuk kelancaran aksi supaya bisa diterapkan di kelas lainnya. dan juga dukungan orang tua dalam memantau dan membimbing anaknya di rumah

Hasil dari aksi nyata yang dilakukan

1. Mendapat izin dari kepala sekolah untuk menyelenggarakan program SASIH
2. Mengkomunikasikan program SASIH kepada rekan guru dan orang tua murid
3. Terjalin kolaborasi yang efektif antara guru dan orang tua murid untuk pelaksanaan program SASIH dan selalu menjalin komunikasi aktif tentang perkembangan murid
4. Murid antusias melaksanakan program ini terbukti dari semangat tinggi untuk melakukan kegiatan kebersihan baik di kelas maupun di rumah
5. Murid dapat menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitarnya secara sadar tanpa harus dipaksa.

Berdasarkan hasil komunikasi guru dan orang tua murid yang menyatakan anaknya dapat menjaga kebersihan di rumah tanpa harus dipaksa, meski kadang perlu diingatkan dengan nasihat yang baik. Sedangkan di kelas, pembiasaan kebersihan sudah diterapkan sejak awal tahun ajaran baru namun terkadang masih ada murid yang kurang menjaga dan harus diingatkan. Dengan program SASIH, semakin banyak murid yang mengetahui arti penting menjaga kebersihan dan mulai terlihat perubahan signifikan pada murid untuk senantiasa menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitarnya.

Pembelajaran yang didapat :

Faktor pendukung keberhasilan :
1. Dukungan kepala sekolah dan guru untuk pelaksanaan program SASIH
2. Program sekolah tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat sudah berjalan, sehingga semakin memperkuat tujuan tercapainya program SASIH
3. Dukungan dan kerjasama orang tua murid dalam membimbing murid
4. Antusias para murid untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan

Faktor penghambat yang didapat :
1. Pelaksanaan program hanya 1 minggu. Alangkah lebih baik jika waktunya bisa lebih lama misal 2 minggu agar perilaku hidup bersih lebih tertanam dalam diri murid
2. Keterbatasan tatap muka disebabkan masih dalam kondisi pandemi COVID-19 

Rencana perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang 

1. Pada saat merancang program perlu memperhatikan waktu yang dibutuhkan secara cermat
2. Menjaga kebersihan diri dan lingkungan dijadikan sebagai aturan/kesepakatan kelas yang disetujui bersama antara guru dan murid. Artinya ada tambahan 1 poin aturan kesepakatan kelas
Gambar di atas adalah kesepakatan kelas pada saat awal masuk sekolah. Lalu ditambahkan 1 poin kesepakatan kelas yaitu menjaga kebersihan diri dan lingkungan
Gambar kesepakatan kelas terbaru
3. Untuk evaluasi kegiatan dapat dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran berlangsung dan hasil diskusi bersama orang tua

 Dokumentasi kegiatan
Kegiatan forum guru. Salah satu materinya yaitu membahas program yang akan saya lakukan
Gambar kegiatan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir

Gambar pemeriksaan suhu tubuh
Gambar pemeriksaan kuku

Gambar diskusi guru dan murid tentang kegiatan main yang akan dilakukan yaitu kerja bakti membersihkan kelas. Murid diberi kebebasan untuk memilih membersihkan area/tempat yang diinginkan
Gambar murid sedang membersihkan kelas
Gambar kegiatan menggosok gigi

Gambar kekompakan para murid kelompok B1 TK Al Qalam

Gambar kegiatan menggosok gigi saat di rumah

Klik link video kegiatan SASIH pada saat di rumah




Selasa, 05 Oktober 2021

Jurnal refleksi 21

 Model six thinking hats

1. topi putih 

27 September : elaborasi pemahaman 'Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya' oleh ibu Rusiati Yo. Pemaparan beliau sistematis. Tidak terasa durasi waktunya. Sangat menikmati dan santai dalam menyampaikan materi. Pada sesi ini, lebih menegaskan lagi bahwa kita harus berfikir positif, selalu fokus pada kekuatan.

elaborasi

28 September : Koneksi Antar Materi; di sini saya menulis artikel di blog pribadi mengenai kesimpulan yang saya dapatkan selama mempelajari modul ini, kaitannya dengan modul-modul sebelumnya dan rancangan tindakan aksi nyata yang akan saya lakukan dalam memanfaatkan aset sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran anak usia dini

29 September : Aksi Nyata, berdasarkan rancangan aksi nyata yang saya buat, saya lebih fokus pada pemanfaatan aset untuk menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat bagi anak usia dini karena murid perlu dibimbing dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat agar tumbuh kembangnya dapat optimal. Anak yang sehat akan optimal dalam menapaki tahapan perkembangannya daripada anak yang rentan terkena penyakit. Banyak aset sekolah yang bisa diberdayakan untuk mencapai tujuan ini.

30 September : Mulai dari diri 'Pengelolaan Program yang berdampak pada murid' , di sesi ini saya melakukan refleksi terhadap program sekolah yang berjalan selama ini dan aset-aset sekolah yang dapat diberdayakan. Selain itu ada harapan besar dari saya setelah mempelajari modul ini, saya lebih mengerti dan menerapkannya di sekolah agar program sekolah bisa lebih baik lagi

1 Oktober : eksplorasi konsep - mandiri, di sesi ini banyak materi yang baru sama sekali tentang MELR dan Manajemen resiko. Saya terkesima pada saat menonton video, terpukau dengan ketercapaian mereka yang dapat memberdayakan aset agar berpusat pada murid. dimulai dari video program sekolah yang berfokus pada kepemimpinan murid seperti video design of change : kabupaten banggai, SD Insan Teladan bogor;  video kepemimpinan sekolah yang inovatif seperti video kepala sekolah SDN. Sumbergondo 2 Batu; program sekolah adiwiyata mandiri dari pareprare; sekolah alam SMP Negeri 3 Bangiwangi; program yang melibatkan peran serta masyarakat yaitu pembangunan sekolah yang bekerja sama dengan Australia. Kemudian tahapan pembuatan program menggunakan BAGJA; pembahasan MELR dan manajemen resiko

2. topi merah

perasaan pada saat elaborasi, senang karena mendapat pencerahan untuk selalu berfikir positif. Pada saat koneksi dan aksi nyata, sempat merenung kegiatan apa yang akan saya angkat sebagai aksi nyata kali ini. Akhirnya saya memutuskan untuk membahas tentang hidup bersih dan sehat sesuai dengan tema pembelajaran saat ini. Untuk materi modul 3.3, baru sebatas teori, masih perlu belajar dan berlatih dalam mengimplementasikannya

3. topi kuning

hal-hal positif yang saya dapatkan adalah pada modul 3.2 selalu berfikir positif, dapat memetakan aset sekolah, dan belajar mengelola aset tsb dalam proses pembelajaran yang berpihak pada murid. pada modul 3.3, mendapat materi baru yang masih perlu latihan. terkesima dengan video-video yang ditayangkan, sempat menangis terutama ketika melihat bangunan sekolah banyak berdiri dan murid-murid tersenyum bahagia karena bisa mengenyam pendidikan, tidak perlu berjalan kaki jauh bahkan melintasi lautan

topi hitam

pada modul 3.3, saya masih perlu belajar lagi dan berlatih menerapkannya seperti MELR dan manajemen resiko. karena masih belum terbayang jelas (materi ini baru pertama kali saya dapatkan di sini)

5. topi hijau

Pada modul 3.2 belajar memanfaatkan aset sekolah agar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.

Pada modul 3.3 Mencoba mencari referensi lain tentang MELR dan Manajemen Resiko di internet.

6. topi biru

Kesimpulan yang saya dapatkan dari modul 3.2 bahwa guru sebagai pemimpin pembelajaran dapat mengelola sumber daya sekolah untuk diberdayakan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran pada murid. Sedangkan pada modul 3.3 yaitu tentang program sekolah yang berdampak pada murid, bentuk-bentuk program sekolah yang berdampak pada murid melalui tayangan beberapa video, tahapan membuat program menggunakan BAGJA dan materi tentang MELR dan manajemen resiko


Jurnal refleksi 20

 Model refleksi 4F

1. Facts

20 September : Ruang kolaborasi 'Pengerjaan'= masuk dalam kelompok A1 bersama bu Ela, bu Dwi dan pa Nurul Ilyas untuk mengidentifikasi modal/aset yang dimiliki Cianjur yang bisa digunakan sekolah. Semua berpartisipasi aktif dalam pengerjaan tugas kelompok ini. Meski kendala waktu karena berjam-jam menggabungkan ide dan pikiran para anggota akhirnya terwujud hasilnya dalam sebuah video yang diupload oleh pa Nurul dalam Forum kelompok. Ternyata banyak aset yang bisa diberdayakan sekolah. Hasil pemikiran ini  dari kelompok A1, belum termasuk diskusi dengan kelompok lain, pasti lebih banyak lagi aset cianjur.

21 September : Ruang kolaborasi 'Presentasi'= sempat bingung kapan mau upload video kelompok, untung saja sebelum jadwal presentasi dimulai, bisa bertanya ke pa Bambang dan rekan lain pada saat gmeet. Pa nurul langsung mengupload, dan para rekan memberikan umpan balik. Untuk presentasi, kebagian jadwal terakhir,Alhamdulillah bisa dilalui dengan lancar. Semua kelompok mempresentasikan dengan baik dan semakin terpukau dengan aset cianjur

22 September : Refleksi Terbimbing= di bagian ini saya makin merenung dan selalu berfikir positif. Ada banyak aset yang dimiliki sekolah. Jika berpikir fokus pada kekuatan, maka muncul rasa percaya diri dan optimis bahwa sekolah akan maju

23 - 24 September : Demonstrasi Kontekstual, bagian ini saya memetakan 7 aset yang ada di TK.  Sekolah telah banyak memberikan kontribusi pendidikan bagi para warga yang ada di lingkungan sekitar sekolah. Saya harus bangga dengan sekolah saya karena banyak keunikan dan kekuatan yang ada di dalamnya. Langkah selanjutnya adalah saya bersama para rekan harus mengoptimalkan aset-aset ini agar bisa berdaya guna bagi kepentingan umum terutama dalam bidang pendidikan. Butuh kolaborasi antar pihak untuk mewujudkannya.

25 September : lokakarya 5, kegiatan kali ini banyak melakukan refleksi apa yang telah saya lakukan selama ini dan analisis diri apa yang sudah berkembang, yang belum berkembang. Yang sudah berkembang yaitu sudah menerapkan RPP berdiferensiasi dengan terintegrasi KSE, menerapkan konsep bermain sebagai kodrat anak TK, membentuk komunitas praktisi di sekolah, menerapkan coaching. Yang belum berkembang adalah manajemen kepemimpinan sekolah dalam hal penyusunan dan pemantauan program sekolah. Karena bagian ini sangat membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. Dalam hal ini, saya harus selalu berkomunikasi aktif dengan kepala sekolah dan para rekan sejawat. Di lokakarya ini juga saya menyusun langkah yang harus saya lakukan selama 3 bln ke depan agar apa yang belum berkembang bisa ada perubahan yang lebih baik.

2. Feelings

Saya senang karena di modul ini membuka cakrawala tentang banyak aset sekolah dan aset cianjur yang bisa diberdayakan. Terkesima dengan analisis dari guru SMP yang begitu rinci. Saya pun berfikir positif terhadap sekolah saya karena banyak aset sekolah yang perlu dioptimalkan. Terima kasih kepada pa Bambang yang sudah memotivasi saya. Pada saat lokakarya, banyak masukan dari instruktur dan rekan sejawat. Terima kasih buat semuanya

3. Findings

Sekolah saya sangat potensial untuk maju, ada banyak aset sekolah yang perlu dioptimalkan. Selalu berfikir positif, fokus pada kekuatan. Berkolaborasi dengan semua pihak sekolah menjadi hal yang urgen karena sekolah milik bersama.

4. Future

Saya akan membahas kekuatan sekolah pada saat kegiatan komunitas praktisi 'FORMASI', kemudian menganalisis langkah-langkah yang perlu dilakukan (bersama dengan rekan-rekan saya). Dari hasil analisis tsb, maka akan dibuat agenda untuk mewujudkannya



Jurnal refleksi 19

 Model Driscoll

1. What? (Deskripsi perisriwa yang terjadi)

13 September : Koneksi Antar Materi - membuat tulisan di blog mengenai modul 3.1 dan kaitannya dengan modul-modul sebelumnya

14 September : Aksi Nyata - Pada hari kamis, 16 September, saya sudah menyampaikan materi ini ke rekan sejawat melalui kegiatan komunitas FORMASI. Mereka antusias. Video ini untuk dokumentasi sekolah, intern saja. Sebelum kegiatan. guru menggunakan masker. Namun karena ada kendala, suara tidak terdengar ketika memakai masker, jadinya tidak menggunakan masker. Namun bisa dipastikan pada guru-guru dalam kondisi sehat. Adapun untuk aksi nyata di kelas, sudah ada kasusnya, namun untuk solusinya masih dalam tahap perencanaan

formasi

https://drive.google.com/file/d/1MlfS9NkPs96Pv6BQDQ1qRFT_6wU4U_OO/view?usp=drivesdk

15 September : Mulai dari diri, mulai memasuki modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Tahap ini berupa pertanyaan tentang sosok pemimpin yang ideal, peran pemimpin, sekolah sebagai ekosistem dimana ada faktor-faktor yang mempengaruhinya dan harapan saya tentang modul ini. Saya berharap bisa memahami materi dengan baik dan menerapkannya di sekolah.

16 September : Eksplorasi konsep - Mandiri yaitu belajar tentang sekolah sebagai ekosistem yang memiliki faktor biotik dan abiotik, pendekatan berbasis masalah (deficit based thinking) dan pendekatan berbasis aset (Asset Based Thinking) beserta contoh kasusnya, sejarah pendekatan PKBA (Pengembangan Komunitas Berbasis Aset), Aset-aset yang ada dalam komunitas (ada 7 modal utama)

17 September : Eksplorasi Konsep - Forum diskusi, sesama cgp mendiskusikan 2 kasus yaitu kasus ibu yuni dan pak parjo

2. So What? (Analisis dari peristiwa yang terjadi)

Untuk modul 3.1, saya berharap bisa saya praktekkan di kelas/sekolah mengenai 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip berpikir dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan. Saya merasa materi ini penting karena dapat memudahkan kita dalam mengambil keputusan yang tepat, bijak dan bertanggung jawab.

Untuk modul 3.2, saya diarahkan untuk memandang sekolah sebagai ekosistem yang memiliki aset yang banyak, selalu melihat kekuatan sekolah yang seharusnya bisa dikelola dan diberdayakan dengan baik.

3. Now what? (Tindak lanjut dari peristiwa yang terjadi)

Saya akan menerapkan modul 3.1. dalam kehidupan saya, dan berharap rekan sejawat dapat menggunakan materi ini dalam pengujian dan pengambilan keputusan.

Saya akan berusaha untuk mempelajari modul 3.2, menganalisis aset yang ada di sekolah


jurnal refleksi 18

 Model Refleksi DEAL

1. Description

6 September : Ruang kolaborasi 'Presentasi', kali ini kebagian kelompok pertama A1 yang mempresentasikan. PJ moderator : Bu Dwi, Presentasi : Saya, Penanya dan Penjawab : Bu Ela, Notulen : Pa Nurul Ilyas. Kasus yang diangkat berasal dari sekolah bu Ela tentang  dua orang siswa yang belum mencukur rambut karena belum ada biaya padahal saat itu sedang ada jadwal pemotretan. Kami menyadari masih ada kekurangan dalam presentasi kami karena banyak pendapat dari kami tentang kasus tersebut dan juga masih ada kebingungan. Namun kami berusaha mempresentasikan dengan sebaik mungkin, terlepas dari segala kekurangan kami. 

presentasi

7 September : Refleksi terbimbing, saya menjawab semua pertanyaan yang disediakan (walaupun tertulis minimal 4 pertanyaan) sebagai bahan introspeksi saya selama mempelajari modul ini.

8 - 9 September : Demonstrasi kontekstual, bagian ini baru saya kerjakan hari sabtu karena saya ingin lebih memahami materi tsb di elaborasi pemahaman (pada hari jumat). 

10 September : Elaborasi pemahaman,kegiatan dilaksanakan hari jumat, pkl. 13.15 - selesai. Penyampaian materinya bagus, hanya waktu terasa kurang. Apalagi materi ini perlu pengkajian lebih dalam. Terima kasih kepada ibu Puri. Saya salut sama beliau dapat menjelaskan materi yang awalnya saya masih galau sekarang tercerahkan.

elaborasi

2. Examination

Selama satu minggu ini, saya belajar lebih mendalam tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Berbagai macam studi kasus pada saat di ruang kolaborasi (presentasi kelompok) membuka mata saya, namun masih ada sedikit kebingungan. Arah semakin jelas pada saat elaborasi pemahaman yang disampaikan oleh ibu Puri. Mudahh-mudahan saya bisa menerapkan materi ini di kelas/sekolah saya.

3. Articulation of learning

Saya mempelajari tentang kasus apakah termasuk bujukan moral atau dilema etika. Bujukan moral jika berhadapan pada situasi benar salah, maka hal ini harus berpatokan pada hukum, dan tidak bisa diganggu gugat. Dilema etika jika berhadapan dengan situasi yang sama benar namun saling bertentangan. 

Pada kasus dilema etika, ada 4 paradigma dilema etika yang bisa dianalis apakah termasuk paradigma keadilan lawan kasihan, individu lawan masyarakat, kebenaran lawan kesetiaan dan jangka panjang lawan jangka pendek. 

Ada 3 prinsip pengambilan keputusan yaitu prinsip berbasis hasil akhir, berbasis aturan dan berbasis rasa peduli.

Lakukan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan yaitu :

1. Mengenali nilai-nilai yang bertentangan

2. Menentukan pihak-pihak yang terlibat

3. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan

4. Pengujian benar/salah dengan melakukan uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji publikasi dan uji panutan

5. Paradigma yang digunakan

6. Prinsip resolusi

7. Investigasi opsi trilema

8. Buat keputusan

9. Tinjau lagi keputusan dan refleksikan

Rencana perbaikan untuk masa depan yaitu saya akan menerapkan materi ini, mengajak rekan-rekan saya untuk ikut menerapkannya karena dengan melakukan 9 langkah tsb kita bisa mengambil keputusan dengan tanggung jawab dan cermat


Sabtu, 02 Oktober 2021

Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

 Monitoring dan evaluasi adalah suatu aktivitas yang sangat penting untuk mendukung tercapainya suatu tujuan dari proyek atau program yang dilakukan. Kertsy Hobson, dkk (2013) dalam buku yang berjudul “A Step by Step Guide to Monitor and Evaluation”, Hobson dkk menjelaskan bahwa monitoring adalah proses menghimpun informasi dan analisis internal dari sebuah proyek atau program. Evaluasi adalah sebuah penilaian retrospektif secara periodik pada satu proyek atau program yang telah selesai. Biasanya kegiatan evaluasi melibatkan penilai luar yang independen.

Monitoring dan evaluasi, atau lebih mudah disingkat dengan M&E, perlu disinergikan dengan kegiatan atau program yang sedang berjalan dengan melakukan perencanaan, tindakan, dan refleksi. Ketiga aktivitas ini menjadi sebuah siklus yang dapat dilakukan berulang-ulang. Dalam melakukan monitoring dan evaluasi, Kertsy Hobson menawaran dua belas prinsip dasar yang dapat digunakan sebagai pedoman:

Pertama, mengapa perlu melakukan monitoring dan evaluasi? Tahap awal sebelum melakukan monitoring dan evaluasi adalah mengetahui alasan mengapa monitoring dan evaluasi dibutuhkan. Banyak hal positif yang bisa diperoleh dari aktivitas monitoring dan evaluasi.


Kedua adalah menyetujui prinsip-prinsip yang menjadi pedoman. Prinsip-prinsip yang menjadi pedoman dalam melakukan monitoring dan evaluasi adalah hal penting untuk dimiliki.  Beberapa prinsip yang harus dipenuhi adalah bahwa monitoring dan evaluasi harus relevan, berguna, sesuai dengan waktu yang ditetapkan, dan kredibel.


Ketiga, menentukan program atau proyek yang perlu dimonitor. Penting untuk menentukan program atau kegiatan yang harus dimonitor berdasarkan pada tingkat prioritasnya. Dengan demikian, perlu dipikirkan program mana yang akan dinilai, untuk periode kapan, dan apakah program tersebut adalah aktivitas yang sedang berlangsung sehingga perlu dimonitoring, atau sebagai rangkaian aktivitas yang sudah selesai sehingga perlu dievaluasi.


Keempat adalah menentukan siapa saja yang terlibat dalam setiap tahapan monitoring dan evaluasi. Untuk memastikan M&E relevan untuk pihak pemangku kepentingan, perlu dipertimbangkan informasi yang butuhkan oleh pihak pemangku kepentingan. Untuk itu,  identifikasi siapa saja dari para pihak pemangku kepentingan yang menjadi bagian internal program dan eksternal program adalah hal yang perlu diperhatikan.


Kelima, adalah menentukan topik kunci dan pertanyaan untuk melakukan investigasi. Langkah selanjutnya adalah menentukan isu dan pertanyaan yang ingin diketahui jawabannya. Contoh pertanyaan internal yang dapat diajukan kepada kelompok adalah: seberapa baik anggota kelompok bisa bekerja sama dalam hubungannya dengan sumber daya manusia, kepemimpinan, biaya, dan manajemen? Seberapa baik anggota kelompok bisa bekerja dengan orang lain?


Keenam adalah mengklarifikasi sasaran, tujuan, aktivitas, dan langkah-langkah untuk berubah. Untuk dapat menilai kemajuan, perlu diketahui apa yang sedang diraih dan bagaimana cara meraihnya dengan kembali melihat apa yang menjadi tujuan, target, dan kegiatan yang sudah dilakukan. Beberapa konsep penting yang menjadi kunci dalam strategi dan desain program atau proyek adalah :

  1. Aim (dampak yang diinginkan), yaitu dampak akhir yang ingin diraih pada kehidupan orang lain atau lingkungan sekitar. 
  2. Objective (tujuan; outcome yang diinginkan), yaitu perubahan-perubahan yang perlu dilakukan untuk mencapai dampak yang diinginkan)
  3. Output, yaitu hasil cepat yang diraih dari satu kegiatan yang dapat berkontribusi terhadap tujuan yang ingin dicapai (objective).
  4. Activities, yaitu kegiatan program atau kegiatan proyek yang sedang dilakukan sebagai proses memperoleh output yang diinginkan.
  5. Inputs, yaitu semua yang diperlukan selama melakukan kegiatan program atau proyek, seperti manusia, keuangan, organisasi, teknis, dan semua sumber daya sosial.

Strategi dan desain program untuk mencapai perubahan dapat dijelaskan dengan tahapan: input – kegiatan –output – outcome – dampak (impact)


Ketujuh adalah mengidentifikasi informasi yang perlu diketahui. Informasi yang diperlukan biasanya ditujukan untuk memantau atau menilai apa saja yang berubah, memahami mengapa bisa berubah, dan menginterpretasi perubahan. Informasi yang diinginkan dapat berupa data kuantitatif (menjawab pertanyaan, apa, berapa, dan kapan) atau data kualitatif (menjawab pertanyaan mengapa, bagaimana)


Kedelapan adalah memutuskan bagaimana informasi diperoleh. Biasanya data diperoleh melalui berbagai sumber internal dan eksternal. Pengumpulan metode Informasi yang digunakan untuk monitoring internal adalah rekam jejak internal kegiatan, menyimpan data sekunder yang relevan, workshop kelompok yang dilakukan secara periodik, diskusi, FGD, survei periodik, dan perlengkapan komunitas. Evaluasi dapat dilakukan oleh pihak eksternal. Biasanya evaluasi yang dilakukan oleh pihak luar berupa wawancara. Penilai eksternal dapat menggunakan data yang diperoleh melalui sistem monitoring internal.


Kesembilan, menilai kontribusi/pengaruh yang diberikan. Bagian penting dari M&E adalah menilai pengaruh atau kontribusi kegiatan terhadap dampak atau outcome yang dapat diobservasi. Untuk melihat pengaruh atau kontribusi yang dapat dirasakan, penilaian dapat dengan melakukan kontrol secara acak, atau melakukan penilaian retrospektif.


Kesepuluh adalah menganalisis dan menggunakan informasi. Tujuan utama dari monitoring adalah untuk mendukung pengambilan keputusan internal dan perencanaan sehingga dilakukan analisis secara periodik, menilai, dan menggunakan informasi tersebut. Tips dalam menganalisis dapat disesuaikan dengan sifat data, yaitu :

  1. Jika data adalah informasi bersifat kualitatif : mengidentifikasi kategori, menginterpretasikan temuan, dan bersiap untuk hasil yang di luar perkiraan.
  2. Jika data adalah informasi yang bersifat kuantitatif: menghitung total sampel, menghitung rata-rata dan persentase serta melakukan pengujian statistik.

Kesebelas adalah menjelaskan data. Data yang dijelaskan sangat bergantung pada tujuan. Data disampaikan kepada pihak pemangku kepentingan yang relevan dengan data yang akan dijelaskan. Dalam menjelaskan data, perlu ditentukan siapa yang menjadi pendengar atau hadirin, menjahitkan data agar bisa dipahami oleh pemangku kepentingan, memindahkan data menjadi grafik, dan menggambarkan hasil-hasil penting kepada pemangku kepentingan atau hadirin.


Kedua belas adalah tentang etika dan proteksi data. Dalam etika memproteksi data, semua peserta atau responden yang dilibatkan selama proses monitoring dan evaluasi wajib dijaga kerahasiaannya.

Dr Roger Greenaway seoarang ahli di bidang pelatihan guru dan sebagai fasilitator merancang kerangka kerja pembelajaran (Learning) melalui empat tingkat model.

Keempat F adalah:

  1. Fact (Fakta ): Catatan objektif tentang apa yang terjadi
  2. Feeling (Perasaan): Reaksi emosional terhadap situasi
  3. Finding (Temuan): Pembelajaran konkret yang dapat diambil dari situasi tersebut
  4. Future (Masa Depan): Menyusun pembelajaran digunakan di masa depan

Model ini dapat digunakan untuk berpikir dan merefleksikan situasi dan dapat membantu menyusun refleksi tertulis. Model ini mudah diingat dan membahas aspek utama dari apa yang perlu dipertimbangkan ketika meninjau suatu pengalaman.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari refleksi perlu ditinjau kembali pemikiran yang dimiliki.   Untuk masing-masing bagian sejumlah pertanyaan bermanfaat diuraikan di bawah ini. 


Fakta (Fact)

F pertama merupakan fakta yaitu memeriksa urutan peristiwa dan momen-momen penting untuk menarik dan melihat fakta fakta. Membuat laporan singkat yang meliputi (apa?, di mana? kapan?, mengapa? dan bagaimana?) 

  • Apakah sesuatu yang tidak terduga terjadi? Adakah kejutan?
  • Apakah sesuatu yang sangat dapat diprediksi terjadi?
  • Apa yang paling berkesan / berbeda / menarik?
  • Apa titik balik atau momen kritis?
  • Apa yang terjadi selanjutnya? Apa yang terjadi sebelumnya?
  • Apa yang paling memengaruhi sikap dan perilaku Anda?
  • Apa yang tidak terjadi yang Anda pikir / harapkan akan terjadi.

Perasaan (Feeling)

Menggambarkan perasaan dalam situasi yang dapat membimbing untuk sepenuhnya memahami situasi dan pembelajaran didasarkan pada pengalaman. Mengevaluasi dan menilai secara tidak sengaja dengan perasaan dengan menggunakan ‘merasa’ sebagai penilaian, misalnya ‘Saya merasa mereka salah’, atau feeling perasaan saya adalah itu pilihan yang baik ’, kemudian menulis ulang sebagai perasaan baru.Contoh pertanyaan sbb:

  • Apa saja perasaan yang dialami
  • Pada titik apa Anda merasa paling atau paling tidak terlibat?
  • Perasaan apa lagi yang ada dalam situasi tersebut?
  • Pada titik mana secara sadar dapat mengendalikan / mengekspresikan perasaan Anda

Temuan (Finding)

Menyelidiki dan menafsirkan situasi untuk menemukan makna dan membuat penilaian. Pertanyaan utama adalah 'bagaimana' dan 'mengapa'.

Contoh :

  • Mengapa hal tersebut tidak berhasil? 
  • Bagaimana hal tersebut bisa memengaruhi ?
  • Apakah ada peluang atau penyesalan yang terlewat?

Masa depan (Future)

Mengambil temuan dan mempertimbangkan bagaimana menerapkannya di masa depan.

  • Bagaimana bayangan terhadap masa depan?
  • Apa yang sudah berubah?
  • Pilihan apa yang sudah dimiliki?
  • Bagaimana temuan ini dapat berjalan dengan baik?
  • Rencana apa yang yang akan dilakukan untuk masa depan?

Menurut Himstreet, et al. (1983), laporan adalah pesan yang disampaikan secara sistematis dan objektif yang digunakan untuk menyampaikan informasi dari satu bagian organisasi kepada bagian lain atau lembaga lain untuk membantu pengambilan keputusan atau memecahkan persoalan.

Laporan merupakan alat bagi pimpinan untuk menginformasikan atau memberikan masukan untuk setiap pengambilan keputusan yang diambilnya. Oleh karena itu laporan harus akurat, lengkap, dan objektif. Dalam prakteknya, laporan adalah sebuah dokumen yang merupakan produk akhir dari suatu kegiatan. Laporan menyajikan informasi dengan cara yang sangat khusus. Informasi yang terkandung dalam laporan sesungguhnya telah ditulis dan dikumpulkan dalam kertas kerja. 

Pada dasarnya laporan merupakan gambaran tentang apa (what) yang telah terjadi, di mana (where) kejadian tersebut berlangsung, bilamana (when) kejadian itu terjadi dan mengapa (why) hal itu terjadi, siapa (who) yang bertanggung jawab terhadap sesuatu yang telah terjadi, serta bagaimana (how) kejadiannya. Konsep ini dikenal dengan istilah SW 1H.


Tujuan Laporan

Tujuan penyusunan laporan adalah untuk menjadikan informasi yang disampaikan jelas dan mudah dipahami. Oleh karena itu, materi laporan yang disampaikan hanya yang perlu diketahui oleh pihak pembaca.

Pada umumnya laporan digunakan untuk menyampaikan tujuan yang bersifat umum sebagai berikut:

  1.  Memantau dan mengendalikan suatu kegiatan. 
  2. Membantu mengimplementasikan kebijakan dan prosedur yang telah ditentukan 
  3. Memenuhi persyaratan.
  4. Mendokumentasikan kegiatan
  5. Merupakan pedoman untuk persoalan tertentu

Fungsi Laporan

Fungsi Laporan Fungsi laporan dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Pertanggungjawaban dan pengawasan

Laporan merupakan suatu pertanggungjawaban dari seorang kepada pimpinannya sesuai dengan fungsi tugas yang dibebankan kepada yang bersangkutan.

2. Penyampaian informasi

Laporan merupakan salah satu sumber informasi yang diperlukan dalam pelaksanaan fungsi dan tugas-tugasnya. 

3. Bahan pengambilan keputusan Dalam pelaksanaan manajemen

Untuk keperluan pengambilan keputusan oleh pimpinan diperlukan data atau informasi yang berhubungan dengan keputusan yang diambil. Data atau informasi itu berasal dari semua satuan organisasi atau pejabat di dalam organisasi melalui laporan-laporan.  Sebagai salah satu alat untuk membina kerja sama, saling pengertian, dan koordinasi dengan bagian/unit lain.

4. Sebagai salah satu alat untuk memperluas ide dan tukar-menukar pengalaman.

Syarat-syarat laporan agar laporan yang dibuat dapat dengan mudah dibaca dan dimengerti maka laporan tersebut harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

  1. Laporan mencerminkan Isi laporan. isi laporan harus dapat dimengerti dan dapat memenuhi keinginan yang memintanya maka laporan harus memuat informasi yang benar dan objektif.. Kebenaran dari informasi tersebut sangat penting karena hal tersebut sangat berkaitan dengan pengambilan keputusan. Bila informasi dalam laporan tersebut tidak benar maka keputusan yang diambil pun akan salah. 

  2. Laporan harus langsung pada sasaran. Perlu disadari bahwa pimpinan mempunyai   waktu yang sangat terbatas. Dengan keterbatasan waktu yang dimiliki, hendaknya kita harus mengusahakan agar laporan yang kita buat tidak terlalu panjang sehingga tidak terlalu menyaporan harus diusahakan singkat, tepat, padat, dan jelas serta langsung mengenai persoalannya. 

  3. Laporan harus lengkap. Kelengkapan suatu laporan banyak ditentukan oleh kemampuan penyusun dalam mengorganisir data yang mencakup semua segi masalah yang dilaporkan. Penyajian dalam bentuk uraian akan lebih lengkap kalau ditunjang dengan supporting data (data penunjang) misalnya, data statistik, grafik, skema, dan sebagainya. 

  4. Laporan harus tegas dan konsisten. Laporan hendaknya dibuat sedemikian rupa sehingga tidak memberikan kesempatan timbulnya masalah atau persoalan baru. Ini berarti bahwa uraian yang dikemukakan harus tegas dan konsisten antara bagian laporan yang satu dengan bagian yang lainnya. 

  5. Laporan harus tepat pada waktunya. Agar pimpinan dapat menentukan kebijaksanaan selanjutnya dan dapat menyelesaikan masalah dengan benar maka ketepatan waktu penyampaian laporan harus benar-benar diperhatikan. Laporan harus diusahakan secepat-cepatnya dibuat dan disampaikan kepada pimpinan. Tidak tepatnya waktu penyampaian suatu laporan berarti tindakan korektif yang harus diambil ataupun follow up-nya akan mengalami keterlambatan. Hal ini akan mengakibatkan hal yang negatif pada organisasi.

  6. Laporan harus tepat penerimaannya. Laporan pada dasarnya mengandung pengertian komunikasi timbal balik antara yang memberi laporan dengan penerima laporan atau antara atasan dan bawahan. Di satu pihak atasan ingin mengetahui sampai di mana pelaksanaan tugas yang telah diberikannya, dan di lain pihak bawahan ingin mengetahui atau mendapatkan respon dari atasan atas laporannya serta bagaimana follow up dari laporan tersebut. Oleh karena itu, laporan harus benar-benar sampai kepada yang memintanya. Laporan yang tidak sampai kepada sasarannya dan sampai kepada orang yang tidak berhak membacanya, akan menimbulkan masalah yang tidak diinginkan, misalnya terjadi kebocoran rahasia, laporan bagi yang memintanya sudah tidak ada nilainya lagi, dan penilaian negatif oleh atasan terhadap bawahan bersangkutan                                                                                                                                                                                                         


Strategi Pelaporan

Sebelum melakukan laporan, ada beberapa pertanyaan panduan, seperti:  

  1. Apakah laporan disiapkan untuk tujuan audit?
  2. Apakah   data disiapkan untuk menundukung investigasi tugas pembelajaran yang tidak lengkap?
  3. Apakah laporan bertujuan untuk mendemonstrasikan dampak dari pembelajaran Anda pada sebuah organisasi? 

Biasanya laporan hanya dilakukan untuk memenuhi poin 1 dan 2, meskipun saat ini penting untuk melakukan laporan kualitatif seperti pada poin 3 dan laporan yang mendukung poin 4. Laporan-laporan pada poin 3 dan 4 menjelaskan hal yang sedang dilakukan. Apabila laporan dilakukan mulai dari poin 3 dan 4, hal tersebut merupakan langkah awal yang cukup baik.

Manajemen Risiko

Dalam dunia pendidikan kita mengenal istilah manajemen pendidikan yang dilakukan sekolah untuk mengembangkan mutu sekolah, manajemen risiko merupakan salah satu hal  wajib yang harus dilakukan dalam merencanakan program sekolah. Manajemen risiko haruslah menjadi satu kesatuan bagian yang tak terpisahkan dari pelaksanaan sistem manajemen di sekolah. Labombang (2011: 39) berpendapat bahwa walaupun suatu kegiatan telah direncanakan sebaik mungkin, namun tetap mengandung ketidakpastian bahwa nanti akan berjalan sepenuhnya sesuai rencana.

Dalam Prinsip Dasar Manajemen risiko (2019:3)  Manajemen risiko adalah metode yang tersusun secara logis dan sistematis dari suatu rangkaian kegiatan; penetapan konteks, identifikasi,analisa, evaluasi, pengendalian serta komunikasi risiko.

Risiko dalam sebuah program merupakan sebuah langkah awal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi segala  sesuatu yang  kemungkinan besar dapat terjadi, termasuk juga dalam merencanakan dan melaksanakan program pendidikan. Oleh karena itu, sekolah sebagai lembaga pendidikan  wajib melakukan  rangkaian analisis dan metodologi yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, mengendalikan dan mengevaluasi risiko yang mungkin timbul dari pelaksanaan program sekolah.

Risiko tidak dapat dihindari tetapi dapat dikelola dan dikendalikan karena apabila  risiko tidak dikelola dengan baik maka akan mengakibatkan kerugian serta hambatan,  sehingga program sekolah yang telah direncanakan  tidak berjalan dengan baik  Begitu pula sebaliknya apabila  risiko dapat  dikelola dengan baik maka sekolah dapat meminimalisir  segala kerugian yang dapat menghambat jalannya program  sekolah yang telah direncanakan. 

Risiko merupakan sesuatu yang memiliki dampak terhadap pencapaian tujuan organisasi. beberapa tipe risiko di lembaga pendidikan, meliputi:

  1. Risiko Strategis,  merupakan risiko yang berpengaruh terhadap kemampuan organisasi mencapai tujuan
  2. Risiko Keuangan, merupakan risiko yang mungkin akan berakibat berkurangnya aset
  3. Risiko operasional, merupakan risiko yang berdampak pada kelangsungan proses manajemen
  4. Risiko pemenuhan, merupakan risiko yang berdampak pada kemampuan proses dan prosuderal internal untuk memenuhi hukum dan peraturan yang berlaku
  5. Risiko Reputasi, merupakan risiko yang berdampak pada reputasi dan merek lembaga. (Princewatercoper, 2003)

Pada akhirnya perubahan-perubahan yang dilakukan sekolah akan menimbulkan suatu risiko, namun tidak melakukan perubahan pun merupakan sebuah risiko oleh karena itu setiap sekolah harus mengidentifikasi risiko dan merencanakan pengelolaannya. Apabila semua sekolah dapat menerapkan manajemen risiko maka setiap kerugian akan dapat diminimalisir. Adapun tahapan manajemen risiko adalah sebagai berikut:

  1. identifikasi jenis risiko, 
  2. pengukuran risiko, 
  3. melakukan strategi dalam pengendalian risiko 
  4.  melakukan evaluasi terus-menerus, maju dan berkelanjutan

Aksi Nyata Modul 3.1 Praktik menjadi Pengambil Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran

1. Peristiwa (Facts)

a. Latar Belakang

Sekolah adalah lembaga yang bertujuan untuk mendidik para murid melalui bimbingan yang diberikan oleh para pendidik atau guru sesuai dengan jenjang pendidikannya. Dalam aktivitas belajar mengajar, tak jarang guru dihadapkan kepada berbagai situasi yang mengharuskan untuk mengambil keputusan. Dalam membuat keputusan, tidak bisa dilakukan tergesa-gesa tapi melalui pemikiran seksama, cermat dan teliti agar dapat dipertanggungjawabkan. 
Ketika dihadapkan pada situasi yang didalamnya ada dua hal yang bertentangan, guru harus meneliti kasus tsb terlebih dahulu. Jika 2 hal tsb merupakan pertentangan benar dan salah, tergolong bujukan moral, maka yang benar yang harus dipilih karena guru harus mengikuti aturan hukum yang berlaku. Jika berhadapan dengan situasi  yang mengandung pilihan benar dengan benar namun saling bertentangan, tergolong dilema etika, maka guru harus mencermati kasus tsb dan mengikuti 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan. Dasar pengambilan keputusan yakni bertanggung jawab, adanya kebajikan universal dan berpihak pada murid. 

b. Alasan Menjalankan Aksi

Setiap sekolah memiliki kebijakan tersendiri. Berbagai aturan dan tata tertib diterapkan untuk keberlangsungan aktivitas belajar mengajar yang efektif. Namun kenyataannya, ada warga sekolah yang belum bisa menerapkannya dengan berbagai alasan. Meskipun aturan sekolah yang dibuat sudah didesain sedemikiran rupa dari berbagai pengalaman agar bisa diterapkan. Salah satunya adalah kebijakan keringanan biaya bagi murid yatim/piatu yang kurang mampu atau murid dimana penghasilan orang tuanya minim. Mereka dapat berdiskusi dengan kepala sekolah untuk mendapatkan kebijakan keringanan biaya tsb bahkan bisa digratiskan jika dipandang perlu ditetapkan bagi anak bersangkutan.

c. Hasil Aksi Nyata yang Dilakukan

Aksi pertama yang saya lakukan adalah :
Saya mengisi materi pada Kegiatan komunitas guru 'FORMASI' yang diselenggarakan setiap hari kamis, dan mengangkat materi pada modul 3.1 yaitu pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Setelah pemaparan materi, setiap guru kelas dapat mengajukan kasus dilema etika untuk dibahas bersama-sama dengan menerapkan materi yang ada di modul 3.1. 

                                           video singkat tentang pemaparan materi modul 3.1

Aksi yang kedua adalah kasus yang terjadi di kelas saya yaitu orang tua murid yang belum membayar buku paket dan SPP bulanan selama 2 bulan berturut-turut. Padahal pada saat pendaftaran murid baru, guru telah menjelaskan tentang aturan sekolah seperti sistem belajar, biaya bulanan max tgl. 20 setiap bulannya, buku paket (selama 1 tahun) dibayar di awal karena akan langsung digunakan, batik/seragam putih biru/olahraga tidak wajib beli (boleh memakainya dari alumni TK), biaya buku rapot dan kegiatan dapat dicicil selama 1 semester, pemberian makanan tambahan setiap 3 bulan sekali. Bagi murid kurang mampu dapat menghubungi kepala sekolah untuk berdiskusi lebih lanjut. Orang tua murid 'D' ini baru membayar biaya SPP bulan Juli saja pada saat pendaftaran. dan sampai sekarang (awal oktober) belum ada yang masuk lagi. Padahal 'D' murid yang rajin dan semangat belajar. Saya tidak mau murid D merasa risih hanya karena biaya. 

Dari kasus tsb saya melakukan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan antara lain :
1. Mengenali nilai-nilai yang saling bertentangan
orang tua murid 'D' yang melanggar peraturan sekolah yaitu belum membayar buku paket dan biaya SPP selama 2 bulan berturut-turut. padahal aturan sekolah menyatakan buku paket harus dibayar di awal dan biaya SPP bulanan maximal tgl. 20 setiap bulannya
2. Menentukan siapa yang terlibat
Orang tua murid 'D', guru dan kepala sekolah
3. Kumpulkan fakta-fakta yang relevan
- Murid 'D' anak yang rajin dan semangat belajar
- Orang tua murid 'D' belum membayar buku paket dan biaya SPP 2 bulan berturut-turut, baru membayar SPP bulan Juli pada saat pendaftaran
- Guru sudah melakukan komunikasi pribadi melalui orang tua murid 'D' melalui whatsapp dan beberapa kali mengajaknya untuk datang ke sekolah agar bisa berdiskusi langsung dengan saya namun orang tua tsb tidak mau datang dengan alasan malu
4. Pengujian benar atau salah
Uji legal, tidak ada pelanggaran hukum negara atas kasus ini
Uji regulasi/standar profesional, tidak ada pelanggaran kode etik
Uji intuisi, ada perasaan kasihan kepada anak dan orang tua murid jika masalah ini tidak kunjung selesai
Uji publikasi, ada perasaan kurang nyaman jika masalah ini terpublikasikan dan akan timbul kecemburuan sosial karena adanya pelanggaran aturan sekolah
Uji panutan/idola, Idola saya akan membantu mencari solusi terbaik agar orang tua murid dapat mengatasi masalahnya dan tidak menimbulkan pembicaraan publik
5. Paradigma dilema etika
Paradigma rasa keadilan lawan kasihan
6. Prinsip Resolusi
Berfikir Berbasis Rasa Peduli
7. Investigasi Opsi Trilema
- Diskusi dengan kepala sekolah dan para guru. Mereka menyarankan membuat surat resmi khusus untuk orang tua D. Mengajak untuk datang ke sekolah. Jika masih tidak bisa, guru kelas mendatangi rumahnya untuk mendiskusikan masalah tsb. Memberikan opsi, jika ia tidak sanggup membayar, dapat berdiskusi dengan kepala sekolah untuk meringankan biayanya bahkan bisa digratiskan jika syarat-syaratnya terpenuhi.
8. Buat keputusan
- Melakukan komunikasi lewat whatsapp agar bisa datang ke sekolah mendiskusikan masalah ini
- Menitipkan surat resmi kepada anaknya
- Jika belum datang juga, guru mendatangi rumahnya untuk mendiskusikan masalah ini agar tidak berlarut-larut dengan memberikan opsi, apakah sanggup membayar atau tidak. Jika tidak sanggup, dapat berdiskusi dengan kepala sekolah untuk meringankan biayanya atau bahkan bisa digratiskan jika syarat-syaratnya terpenuhi.
9. Lihat lagi keputusan dan refleksikan
Keputusan tersebut sudah tepat karena sekolah mengharapkan D dapat mengikuti kegiatan belajar dengan baik dan orang tua murid D dapat mengatasi hambatan dalam masalah pembiayaan`

                                           Diskusi bersama kepala sekolah dan rekan guru

                                    komunikasi saya dengan orang tua D melalui whatsapp

2. Perasaan (Feelings)

Perasaan saya cukup senang karena masalah tsb dapat diatasi. Saya merasakan adanya kepedulian dari kepala sekolah dan para guru karena ikut membantu menyelesaikan masalah ini. 

3. Pembelajaran (Findings)

Ketika menghadapi situasi di mana di dalamnya terdapat dua hal yang bertentangan. Kita harus menentukan apakah situasi tersebut bujukan moral atau dilema etika. Bujukan moral ketika dihadapkan pilihan benar dan salah, maka kita harus mengikuti aturan hukum yang berlaku. Dilema etika ketika dihadapkan pilihan benar dan benar namun saling bertentangan. Maka lakukan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan. Dengan mengikuti langkah ini, keputusan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan. 

4. Penerapan (Future)

Ketika berhadapan dengan situasi yang dihadapkan pada dua pilihan, tentukan dulu apakah bujukan moral atau dilema etika. Setelah itu, keputusan yang diambil harus dicermati terlebih dahulu, jangan tergesa-gesa. Pada kasus bujukan moral maka pengambilan keputusan harus mengikuti aturan hukum yang berlaku. Sedangkan pada kasus dilema etika, terapkan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Terkadang kita membutuhkan bantuan dari pihak lain, maka berkolaborasi dengan kepala sekolah dan rekan guru akan sangat membantu untuk menyelesaikan masalah