Ini adalah tindakan aksi nyata yang saya lakukan. Semoga bermanfaat
Berisi materi yang berkaitan dengan anak usia dini terutama untuk TK (Taman Kanak-kanak) karena mengandung pembelajaran bermakna dan menyenangkan. Sangat cocok untuk guru,orang tua murid dan praktisi pendidikan anak usia dini
Sabtu, 23 Oktober 2021
Tindakan Aksi Nyata Modul 3.3 Pengelolaan Program yang berdampak pada murid
Minggu, 17 Oktober 2021
Kamis, 14 Oktober 2021
Jumat, 08 Oktober 2021
Tindakan Aksi Nyata Modul 3.2 Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya
Selasa, 05 Oktober 2021
Jurnal refleksi 21
Model six thinking hats
1.
27 September : elaborasi pemahaman 'Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya' oleh ibu Rusiati Yo. Pemaparan beliau sistematis. Tidak terasa durasi waktunya. Sangat menikmati dan santai dalam menyampaikan materi. Pada sesi ini, lebih menegaskan lagi bahwa kita harus berfikir positif, selalu fokus pada kekuatan.

28 September : Koneksi Antar Materi; di sini saya menulis artikel di blog pribadi mengenai kesimpulan yang saya dapatkan selama mempelajari modul ini, kaitannya dengan modul-modul sebelumnya dan rancangan tindakan aksi nyata yang akan saya lakukan dalam memanfaatkan aset sekolah dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran anak usia dini
29 September : Aksi Nyata, berdasarkan rancangan aksi nyata yang saya buat, saya lebih fokus pada pemanfaatan aset untuk menanamkan perilaku hidup bersih dan sehat bagi anak usia dini karena murid perlu dibimbing dalam menerapkan pola hidup bersih dan sehat agar tumbuh kembangnya dapat optimal. Anak yang sehat akan optimal dalam menapaki tahapan perkembangannya daripada anak yang rentan terkena penyakit. Banyak aset sekolah yang bisa diberdayakan untuk mencapai tujuan ini.
30 September : Mulai dari diri 'Pengelolaan Program yang berdampak pada murid' , di sesi ini saya melakukan refleksi terhadap program sekolah yang berjalan selama ini dan aset-aset sekolah yang dapat diberdayakan. Selain itu ada harapan besar dari saya setelah mempelajari modul ini, saya lebih mengerti dan menerapkannya di sekolah agar program sekolah bisa lebih baik lagi
1 Oktober : eksplorasi konsep - mandiri, di sesi ini banyak materi yang baru sama sekali tentang MELR dan Manajemen resiko. Saya terkesima pada saat menonton video, terpukau dengan ketercapaian mereka yang dapat memberdayakan aset agar berpusat pada murid. dimulai dari video program sekolah yang berfokus pada kepemimpinan murid seperti video design of change : kabupaten banggai, SD Insan Teladan bogor; video kepemimpinan sekolah yang inovatif seperti video kepala sekolah SDN. Sumbergondo 2 Batu; program sekolah adiwiyata mandiri dari pareprare; sekolah alam SMP Negeri 3 Bangiwangi; program yang melibatkan peran serta masyarakat yaitu pembangunan sekolah yang bekerja sama dengan Australia. Kemudian tahapan pembuatan program menggunakan BAGJA; pembahasan MELR dan manajemen resiko
2. 
perasaan pada saat elaborasi, senang karena mendapat pencerahan untuk selalu berfikir positif. Pada saat koneksi dan aksi nyata, sempat merenung kegiatan apa yang akan saya angkat sebagai aksi nyata kali ini. Akhirnya saya memutuskan untuk membahas tentang hidup bersih dan sehat sesuai dengan tema pembelajaran saat ini. Untuk materi modul 3.3, baru sebatas teori, masih perlu belajar dan berlatih dalam mengimplementasikannya
3. 
hal-hal positif yang saya dapatkan adalah pada modul 3.2 selalu berfikir positif, dapat memetakan aset sekolah, dan belajar mengelola aset tsb dalam proses pembelajaran yang berpihak pada murid. pada modul 3.3, mendapat materi baru yang masih perlu latihan. terkesima dengan video-video yang ditayangkan, sempat menangis terutama ketika melihat bangunan sekolah banyak berdiri dan murid-murid tersenyum bahagia karena bisa mengenyam pendidikan, tidak perlu berjalan kaki jauh bahkan melintasi lautan
4 
pada modul 3.3, saya masih perlu belajar lagi dan berlatih menerapkannya seperti MELR dan manajemen resiko. karena masih belum terbayang jelas (materi ini baru pertama kali saya dapatkan di sini)
5. 
Pada modul 3.2 belajar memanfaatkan aset sekolah agar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran.
Pada modul 3.3 Mencoba mencari referensi lain tentang MELR dan Manajemen Resiko di internet.
6. 
Kesimpulan yang saya dapatkan dari modul 3.2 bahwa guru sebagai pemimpin pembelajaran dapat mengelola sumber daya sekolah untuk diberdayakan dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran pada murid. Sedangkan pada modul 3.3 yaitu tentang program sekolah yang berdampak pada murid, bentuk-bentuk program sekolah yang berdampak pada murid melalui tayangan beberapa video, tahapan membuat program menggunakan BAGJA dan materi tentang MELR dan manajemen resiko
Jurnal refleksi 20
Model refleksi 4F
1. Facts
20 September : Ruang kolaborasi 'Pengerjaan'= masuk dalam kelompok A1 bersama bu Ela, bu Dwi dan pa Nurul Ilyas untuk mengidentifikasi modal/aset yang dimiliki Cianjur yang bisa digunakan sekolah. Semua berpartisipasi aktif dalam pengerjaan tugas kelompok ini. Meski kendala waktu karena berjam-jam menggabungkan ide dan pikiran para anggota akhirnya terwujud hasilnya dalam sebuah video yang diupload oleh pa Nurul dalam Forum kelompok. Ternyata banyak aset yang bisa diberdayakan sekolah. Hasil pemikiran ini dari kelompok A1, belum termasuk diskusi dengan kelompok lain, pasti lebih banyak lagi aset cianjur.
21 September : Ruang kolaborasi 'Presentasi'= sempat bingung kapan mau upload video kelompok, untung saja sebelum jadwal presentasi dimulai, bisa bertanya ke pa Bambang dan rekan lain pada saat gmeet. Pa nurul langsung mengupload, dan para rekan memberikan umpan balik. Untuk presentasi, kebagian jadwal terakhir,Alhamdulillah bisa dilalui dengan lancar. Semua kelompok mempresentasikan dengan baik dan semakin terpukau dengan aset cianjur
22 September : Refleksi Terbimbing= di bagian ini saya makin merenung dan selalu berfikir positif. Ada banyak aset yang dimiliki sekolah. Jika berpikir fokus pada kekuatan, maka muncul rasa percaya diri dan optimis bahwa sekolah akan maju
23 - 24 September : Demonstrasi Kontekstual, bagian ini saya memetakan 7 aset yang ada di TK. Sekolah telah banyak memberikan kontribusi pendidikan bagi para warga yang ada di lingkungan sekitar sekolah. Saya harus bangga dengan sekolah saya karena banyak keunikan dan kekuatan yang ada di dalamnya. Langkah selanjutnya adalah saya bersama para rekan harus mengoptimalkan aset-aset ini agar bisa berdaya guna bagi kepentingan umum terutama dalam bidang pendidikan. Butuh kolaborasi antar pihak untuk mewujudkannya.
25 September : lokakarya 5, kegiatan kali ini banyak melakukan refleksi apa yang telah saya lakukan selama ini dan analisis diri apa yang sudah berkembang, yang belum berkembang. Yang sudah berkembang yaitu sudah menerapkan RPP berdiferensiasi dengan terintegrasi KSE, menerapkan konsep bermain sebagai kodrat anak TK, membentuk komunitas praktisi di sekolah, menerapkan coaching. Yang belum berkembang adalah manajemen kepemimpinan sekolah dalam hal penyusunan dan pemantauan program sekolah. Karena bagian ini sangat membutuhkan kolaborasi dari berbagai pihak. Dalam hal ini, saya harus selalu berkomunikasi aktif dengan kepala sekolah dan para rekan sejawat. Di lokakarya ini juga saya menyusun langkah yang harus saya lakukan selama 3 bln ke depan agar apa yang belum berkembang bisa ada perubahan yang lebih baik.
2. Feelings
Saya senang karena di modul ini membuka cakrawala tentang banyak aset sekolah dan aset cianjur yang bisa diberdayakan. Terkesima dengan analisis dari guru SMP yang begitu rinci. Saya pun berfikir positif terhadap sekolah saya karena banyak aset sekolah yang perlu dioptimalkan. Terima kasih kepada pa Bambang yang sudah memotivasi saya. Pada saat lokakarya, banyak masukan dari instruktur dan rekan sejawat. Terima kasih buat semuanya
3. Findings
Sekolah saya sangat potensial untuk maju, ada banyak aset sekolah yang perlu dioptimalkan. Selalu berfikir positif, fokus pada kekuatan. Berkolaborasi dengan semua pihak sekolah menjadi hal yang urgen karena sekolah milik bersama.
4. Future
Saya akan membahas kekuatan sekolah pada saat kegiatan komunitas praktisi 'FORMASI', kemudian menganalisis langkah-langkah yang perlu dilakukan (bersama dengan rekan-rekan saya). Dari hasil analisis tsb, maka akan dibuat agenda untuk mewujudkannya
Jurnal refleksi 19
Model Driscoll
1. What? (Deskripsi perisriwa yang terjadi)
13 September : Koneksi Antar Materi - membuat tulisan di blog mengenai modul 3.1 dan kaitannya dengan modul-modul sebelumnya
14 September : Aksi Nyata - Pada hari kamis, 16 September, saya sudah menyampaikan materi ini ke rekan sejawat melalui kegiatan komunitas FORMASI. Mereka antusias. Video ini untuk dokumentasi sekolah, intern saja. Sebelum kegiatan. guru menggunakan masker. Namun karena ada kendala, suara tidak terdengar ketika memakai masker, jadinya tidak menggunakan masker. Namun bisa dipastikan pada guru-guru dalam kondisi sehat. Adapun untuk aksi nyata di kelas, sudah ada kasusnya, namun untuk solusinya masih dalam tahap perencanaan

https://drive.google.com/file/d/1MlfS9NkPs96Pv6BQDQ1qRFT_6wU4U_OO/view?usp=drivesdk
15 September : Mulai dari diri, mulai memasuki modul 3.2 tentang Pemimpin dalam Pengelolaan Sumber Daya. Tahap ini berupa pertanyaan tentang sosok pemimpin yang ideal, peran pemimpin, sekolah sebagai ekosistem dimana ada faktor-faktor yang mempengaruhinya dan harapan saya tentang modul ini. Saya berharap bisa memahami materi dengan baik dan menerapkannya di sekolah.
16 September : Eksplorasi konsep - Mandiri yaitu belajar tentang sekolah sebagai ekosistem yang memiliki faktor biotik dan abiotik, pendekatan berbasis masalah (deficit based thinking) dan pendekatan berbasis aset (Asset Based Thinking) beserta contoh kasusnya, sejarah pendekatan PKBA (Pengembangan Komunitas Berbasis Aset), Aset-aset yang ada dalam komunitas (ada 7 modal utama)
17 September : Eksplorasi Konsep - Forum diskusi, sesama cgp mendiskusikan 2 kasus yaitu kasus ibu yuni dan pak parjo
2. So What? (Analisis dari peristiwa yang terjadi)
Untuk modul 3.1, saya berharap bisa saya praktekkan di kelas/sekolah mengenai 4 paradigma dilema etika, 3 prinsip berpikir dan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan. Saya merasa materi ini penting karena dapat memudahkan kita dalam mengambil keputusan yang tepat, bijak dan bertanggung jawab.
Untuk modul 3.2, saya diarahkan untuk memandang sekolah sebagai ekosistem yang memiliki aset yang banyak, selalu melihat kekuatan sekolah yang seharusnya bisa dikelola dan diberdayakan dengan baik.
3. Now what? (Tindak lanjut dari peristiwa yang terjadi)
Saya akan menerapkan modul 3.1. dalam kehidupan saya, dan berharap rekan sejawat dapat menggunakan materi ini dalam pengujian dan pengambilan keputusan.
Saya akan berusaha untuk mempelajari modul 3.2, menganalisis aset yang ada di sekolah
jurnal refleksi 18
Model Refleksi DEAL
1. Description
6 September : Ruang kolaborasi 'Presentasi', kali ini kebagian kelompok pertama A1 yang mempresentasikan. PJ moderator : Bu Dwi, Presentasi : Saya, Penanya dan Penjawab : Bu Ela, Notulen : Pa Nurul Ilyas. Kasus yang diangkat berasal dari sekolah bu Ela tentang dua orang siswa yang belum mencukur rambut karena belum ada biaya padahal saat itu sedang ada jadwal pemotretan. Kami menyadari masih ada kekurangan dalam presentasi kami karena banyak pendapat dari kami tentang kasus tersebut dan juga masih ada kebingungan. Namun kami berusaha mempresentasikan dengan sebaik mungkin, terlepas dari segala kekurangan kami.

7 September : Refleksi terbimbing, saya menjawab semua pertanyaan yang disediakan (walaupun tertulis minimal 4 pertanyaan) sebagai bahan introspeksi saya selama mempelajari modul ini.
8 - 9 September : Demonstrasi kontekstual, bagian ini baru saya kerjakan hari sabtu karena saya ingin lebih memahami materi tsb di elaborasi pemahaman (pada hari jumat).
10 September : Elaborasi pemahaman,kegiatan dilaksanakan hari jumat, pkl. 13.15 - selesai. Penyampaian materinya bagus, hanya waktu terasa kurang. Apalagi materi ini perlu pengkajian lebih dalam. Terima kasih kepada ibu Puri. Saya salut sama beliau dapat menjelaskan materi yang awalnya saya masih galau sekarang tercerahkan.

2. Examination
Selama satu minggu ini, saya belajar lebih mendalam tentang pengambilan keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Berbagai macam studi kasus pada saat di ruang kolaborasi (presentasi kelompok) membuka mata saya, namun masih ada sedikit kebingungan. Arah semakin jelas pada saat elaborasi pemahaman yang disampaikan oleh ibu Puri. Mudahh-mudahan saya bisa menerapkan materi ini di kelas/sekolah saya.
3. Articulation of learning
Saya mempelajari tentang kasus apakah termasuk bujukan moral atau dilema etika. Bujukan moral jika berhadapan pada situasi benar salah, maka hal ini harus berpatokan pada hukum, dan tidak bisa diganggu gugat. Dilema etika jika berhadapan dengan situasi yang sama benar namun saling bertentangan.
Pada kasus dilema etika, ada 4 paradigma dilema etika yang bisa dianalis apakah termasuk paradigma keadilan lawan kasihan, individu lawan masyarakat, kebenaran lawan kesetiaan dan jangka panjang lawan jangka pendek.
Ada 3 prinsip pengambilan keputusan yaitu prinsip berbasis hasil akhir, berbasis aturan dan berbasis rasa peduli.
Lakukan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan yaitu :
1. Mengenali nilai-nilai yang bertentangan
2. Menentukan pihak-pihak yang terlibat
3. Mengumpulkan fakta-fakta yang relevan
4. Pengujian benar/salah dengan melakukan uji legal, uji regulasi, uji intuisi, uji publikasi dan uji panutan
5. Paradigma yang digunakan
6. Prinsip resolusi
7. Investigasi opsi trilema
8. Buat keputusan
9. Tinjau lagi keputusan dan refleksikan
Rencana perbaikan untuk masa depan yaitu saya akan menerapkan materi ini, mengajak rekan-rekan saya untuk ikut menerapkannya karena dengan melakukan 9 langkah tsb kita bisa mengambil keputusan dengan tanggung jawab dan cermat
Sabtu, 02 Oktober 2021
Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid
Monitoring dan evaluasi adalah suatu aktivitas yang sangat penting untuk mendukung tercapainya suatu tujuan dari proyek atau program yang dilakukan. Kertsy Hobson, dkk (2013) dalam buku yang berjudul “A Step by Step Guide to Monitor and Evaluation”, Hobson dkk menjelaskan bahwa monitoring adalah proses menghimpun informasi dan analisis internal dari sebuah proyek atau program. Evaluasi adalah sebuah penilaian retrospektif secara periodik pada satu proyek atau program yang telah selesai. Biasanya kegiatan evaluasi melibatkan penilai luar yang independen.
Monitoring dan evaluasi, atau lebih mudah disingkat dengan M&E, perlu disinergikan dengan kegiatan atau program yang sedang berjalan dengan melakukan perencanaan, tindakan, dan refleksi. Ketiga aktivitas ini menjadi sebuah siklus yang dapat dilakukan berulang-ulang. Dalam melakukan monitoring dan evaluasi, Kertsy Hobson menawaran dua belas prinsip dasar yang dapat digunakan sebagai pedoman:
Pertama, mengapa perlu melakukan monitoring dan evaluasi? Tahap awal sebelum melakukan monitoring dan evaluasi adalah mengetahui alasan mengapa monitoring dan evaluasi dibutuhkan. Banyak hal positif yang bisa diperoleh dari aktivitas monitoring dan evaluasi.
Kedua adalah menyetujui prinsip-prinsip yang menjadi pedoman. Prinsip-prinsip yang menjadi pedoman dalam melakukan monitoring dan evaluasi adalah hal penting untuk dimiliki. Beberapa prinsip yang harus dipenuhi adalah bahwa monitoring dan evaluasi harus relevan, berguna, sesuai dengan waktu yang ditetapkan, dan kredibel.
Ketiga, menentukan program atau proyek yang perlu dimonitor. Penting untuk menentukan program atau kegiatan yang harus dimonitor berdasarkan pada tingkat prioritasnya. Dengan demikian, perlu dipikirkan program mana yang akan dinilai, untuk periode kapan, dan apakah program tersebut adalah aktivitas yang sedang berlangsung sehingga perlu dimonitoring, atau sebagai rangkaian aktivitas yang sudah selesai sehingga perlu dievaluasi.
Keempat adalah menentukan siapa saja yang terlibat dalam setiap tahapan monitoring dan evaluasi. Untuk memastikan M&E relevan untuk pihak pemangku kepentingan, perlu dipertimbangkan informasi yang butuhkan oleh pihak pemangku kepentingan. Untuk itu, identifikasi siapa saja dari para pihak pemangku kepentingan yang menjadi bagian internal program dan eksternal program adalah hal yang perlu diperhatikan.
Kelima, adalah menentukan topik kunci dan pertanyaan untuk melakukan investigasi. Langkah selanjutnya adalah menentukan isu dan pertanyaan yang ingin diketahui jawabannya. Contoh pertanyaan internal yang dapat diajukan kepada kelompok adalah: seberapa baik anggota kelompok bisa bekerja sama dalam hubungannya dengan sumber daya manusia, kepemimpinan, biaya, dan manajemen? Seberapa baik anggota kelompok bisa bekerja dengan orang lain?
Keenam adalah mengklarifikasi sasaran, tujuan, aktivitas, dan langkah-langkah untuk berubah. Untuk dapat menilai kemajuan, perlu diketahui apa yang sedang diraih dan bagaimana cara meraihnya dengan kembali melihat apa yang menjadi tujuan, target, dan kegiatan yang sudah dilakukan. Beberapa konsep penting yang menjadi kunci dalam strategi dan desain program atau proyek adalah :
- Aim (dampak yang diinginkan), yaitu dampak akhir yang ingin diraih pada kehidupan orang lain atau lingkungan sekitar.
- Objective (tujuan; outcome yang diinginkan), yaitu perubahan-perubahan yang perlu dilakukan untuk mencapai dampak yang diinginkan)
- Output, yaitu hasil cepat yang diraih dari satu kegiatan yang dapat berkontribusi terhadap tujuan yang ingin dicapai (objective).
- Activities, yaitu kegiatan program atau kegiatan proyek yang sedang dilakukan sebagai proses memperoleh output yang diinginkan.
- Inputs, yaitu semua yang diperlukan selama melakukan kegiatan program atau proyek, seperti manusia, keuangan, organisasi, teknis, dan semua sumber daya sosial.
Strategi dan desain program untuk mencapai perubahan dapat dijelaskan dengan tahapan: input – kegiatan –output – outcome – dampak (impact)
Ketujuh adalah mengidentifikasi informasi yang perlu diketahui. Informasi yang diperlukan biasanya ditujukan untuk memantau atau menilai apa saja yang berubah, memahami mengapa bisa berubah, dan menginterpretasi perubahan. Informasi yang diinginkan dapat berupa data kuantitatif (menjawab pertanyaan, apa, berapa, dan kapan) atau data kualitatif (menjawab pertanyaan mengapa, bagaimana)
Kedelapan adalah memutuskan bagaimana informasi diperoleh. Biasanya data diperoleh melalui berbagai sumber internal dan eksternal. Pengumpulan metode Informasi yang digunakan untuk monitoring internal adalah rekam jejak internal kegiatan, menyimpan data sekunder yang relevan, workshop kelompok yang dilakukan secara periodik, diskusi, FGD, survei periodik, dan perlengkapan komunitas. Evaluasi dapat dilakukan oleh pihak eksternal. Biasanya evaluasi yang dilakukan oleh pihak luar berupa wawancara. Penilai eksternal dapat menggunakan data yang diperoleh melalui sistem monitoring internal.
Kesembilan, menilai kontribusi/pengaruh yang diberikan. Bagian penting dari M&E adalah menilai pengaruh atau kontribusi kegiatan terhadap dampak atau outcome yang dapat diobservasi. Untuk melihat pengaruh atau kontribusi yang dapat dirasakan, penilaian dapat dengan melakukan kontrol secara acak, atau melakukan penilaian retrospektif.
Kesepuluh adalah menganalisis dan menggunakan informasi. Tujuan utama dari monitoring adalah untuk mendukung pengambilan keputusan internal dan perencanaan sehingga dilakukan analisis secara periodik, menilai, dan menggunakan informasi tersebut. Tips dalam menganalisis dapat disesuaikan dengan sifat data, yaitu :
- Jika data adalah informasi bersifat kualitatif : mengidentifikasi kategori, menginterpretasikan temuan, dan bersiap untuk hasil yang di luar perkiraan.
- Jika data adalah informasi yang bersifat kuantitatif: menghitung total sampel, menghitung rata-rata dan persentase serta melakukan pengujian statistik.
Kesebelas adalah menjelaskan data. Data yang dijelaskan sangat bergantung pada tujuan. Data disampaikan kepada pihak pemangku kepentingan yang relevan dengan data yang akan dijelaskan. Dalam menjelaskan data, perlu ditentukan siapa yang menjadi pendengar atau hadirin, menjahitkan data agar bisa dipahami oleh pemangku kepentingan, memindahkan data menjadi grafik, dan menggambarkan hasil-hasil penting kepada pemangku kepentingan atau hadirin.
Kedua belas adalah tentang etika dan proteksi data. Dalam etika memproteksi data, semua peserta atau responden yang dilibatkan selama proses monitoring dan evaluasi wajib dijaga kerahasiaannya.
Dr Roger Greenaway seoarang ahli di bidang pelatihan guru dan sebagai fasilitator merancang kerangka kerja pembelajaran (Learning) melalui empat tingkat model.
Keempat F adalah:
- Fact (Fakta ): Catatan objektif tentang apa yang terjadi
- Feeling (Perasaan): Reaksi emosional terhadap situasi
- Finding (Temuan): Pembelajaran konkret yang dapat diambil dari situasi tersebut
- Future (Masa Depan): Menyusun pembelajaran digunakan di masa depan
Model ini dapat digunakan untuk berpikir dan merefleksikan situasi dan dapat membantu menyusun refleksi tertulis. Model ini mudah diingat dan membahas aspek utama dari apa yang perlu dipertimbangkan ketika meninjau suatu pengalaman.
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal dari refleksi perlu ditinjau kembali pemikiran yang dimiliki. Untuk masing-masing bagian sejumlah pertanyaan bermanfaat diuraikan di bawah ini.
Fakta (Fact)
F pertama merupakan fakta yaitu memeriksa urutan peristiwa dan momen-momen penting untuk menarik dan melihat fakta fakta. Membuat laporan singkat yang meliputi (apa?, di mana? kapan?, mengapa? dan bagaimana?)
- Apakah sesuatu yang tidak terduga terjadi? Adakah kejutan?
- Apakah sesuatu yang sangat dapat diprediksi terjadi?
- Apa yang paling berkesan / berbeda / menarik?
- Apa titik balik atau momen kritis?
- Apa yang terjadi selanjutnya? Apa yang terjadi sebelumnya?
- Apa yang paling memengaruhi sikap dan perilaku Anda?
- Apa yang tidak terjadi yang Anda pikir / harapkan akan terjadi.
Perasaan (Feeling)
Menggambarkan perasaan dalam situasi yang dapat membimbing untuk sepenuhnya memahami situasi dan pembelajaran didasarkan pada pengalaman. Mengevaluasi dan menilai secara tidak sengaja dengan perasaan dengan menggunakan ‘merasa’ sebagai penilaian, misalnya ‘Saya merasa mereka salah’, atau feeling perasaan saya adalah itu pilihan yang baik ’, kemudian menulis ulang sebagai perasaan baru.Contoh pertanyaan sbb:
- Apa saja perasaan yang dialami
- Pada titik apa Anda merasa paling atau paling tidak terlibat?
- Perasaan apa lagi yang ada dalam situasi tersebut?
- Pada titik mana secara sadar dapat mengendalikan / mengekspresikan perasaan Anda
Temuan (Finding)
Menyelidiki dan menafsirkan situasi untuk menemukan makna dan membuat penilaian. Pertanyaan utama adalah 'bagaimana' dan 'mengapa'.
Contoh :
- Mengapa hal tersebut tidak berhasil?
- Bagaimana hal tersebut bisa memengaruhi ?
- Apakah ada peluang atau penyesalan yang terlewat?
Masa depan (Future)
Mengambil temuan dan mempertimbangkan bagaimana menerapkannya di masa depan.
- Bagaimana bayangan terhadap masa depan?
- Apa yang sudah berubah?
- Pilihan apa yang sudah dimiliki?
- Bagaimana temuan ini dapat berjalan dengan baik?
- Rencana apa yang yang akan dilakukan untuk masa depan?
Menurut Himstreet, et al. (1983), laporan adalah pesan yang disampaikan secara sistematis dan objektif yang digunakan untuk menyampaikan informasi dari satu bagian organisasi kepada bagian lain atau lembaga lain untuk membantu pengambilan keputusan atau memecahkan persoalan.
Laporan merupakan alat bagi pimpinan untuk menginformasikan atau memberikan masukan untuk setiap pengambilan keputusan yang diambilnya. Oleh karena itu laporan harus akurat, lengkap, dan objektif. Dalam prakteknya, laporan adalah sebuah dokumen yang merupakan produk akhir dari suatu kegiatan. Laporan menyajikan informasi dengan cara yang sangat khusus. Informasi yang terkandung dalam laporan sesungguhnya telah ditulis dan dikumpulkan dalam kertas kerja.
Pada dasarnya laporan merupakan gambaran tentang apa (what) yang telah terjadi, di mana (where) kejadian tersebut berlangsung, bilamana (when) kejadian itu terjadi dan mengapa (why) hal itu terjadi, siapa (who) yang bertanggung jawab terhadap sesuatu yang telah terjadi, serta bagaimana (how) kejadiannya. Konsep ini dikenal dengan istilah SW 1H.
Tujuan Laporan
Tujuan penyusunan laporan adalah untuk menjadikan informasi yang disampaikan jelas dan mudah dipahami. Oleh karena itu, materi laporan yang disampaikan hanya yang perlu diketahui oleh pihak pembaca.
Pada umumnya laporan digunakan untuk menyampaikan tujuan yang bersifat umum sebagai berikut:
- Memantau dan mengendalikan suatu kegiatan.
- Membantu mengimplementasikan kebijakan dan prosedur yang telah ditentukan
- Memenuhi persyaratan.
- Mendokumentasikan kegiatan
- Merupakan pedoman untuk persoalan tertentu
Fungsi Laporan
Fungsi Laporan Fungsi laporan dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Pertanggungjawaban dan pengawasan
Laporan merupakan suatu pertanggungjawaban dari seorang kepada pimpinannya sesuai dengan fungsi tugas yang dibebankan kepada yang bersangkutan.
2. Penyampaian informasi
Laporan merupakan salah satu sumber informasi yang diperlukan dalam pelaksanaan fungsi dan tugas-tugasnya.
3. Bahan pengambilan keputusan Dalam pelaksanaan manajemen
Untuk keperluan pengambilan keputusan oleh pimpinan diperlukan data atau informasi yang berhubungan dengan keputusan yang diambil. Data atau informasi itu berasal dari semua satuan organisasi atau pejabat di dalam organisasi melalui laporan-laporan. Sebagai salah satu alat untuk membina kerja sama, saling pengertian, dan koordinasi dengan bagian/unit lain.
4. Sebagai salah satu alat untuk memperluas ide dan tukar-menukar pengalaman.
Syarat-syarat laporan agar laporan yang dibuat dapat dengan mudah dibaca dan dimengerti maka laporan tersebut harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
Laporan mencerminkan Isi laporan. isi laporan harus dapat dimengerti dan dapat memenuhi keinginan yang memintanya maka laporan harus memuat informasi yang benar dan objektif.. Kebenaran dari informasi tersebut sangat penting karena hal tersebut sangat berkaitan dengan pengambilan keputusan. Bila informasi dalam laporan tersebut tidak benar maka keputusan yang diambil pun akan salah.
Laporan harus langsung pada sasaran. Perlu disadari bahwa pimpinan mempunyai waktu yang sangat terbatas. Dengan keterbatasan waktu yang dimiliki, hendaknya kita harus mengusahakan agar laporan yang kita buat tidak terlalu panjang sehingga tidak terlalu menyaporan harus diusahakan singkat, tepat, padat, dan jelas serta langsung mengenai persoalannya.
Laporan harus lengkap. Kelengkapan suatu laporan banyak ditentukan oleh kemampuan penyusun dalam mengorganisir data yang mencakup semua segi masalah yang dilaporkan. Penyajian dalam bentuk uraian akan lebih lengkap kalau ditunjang dengan supporting data (data penunjang) misalnya, data statistik, grafik, skema, dan sebagainya.
Laporan harus tegas dan konsisten. Laporan hendaknya dibuat sedemikian rupa sehingga tidak memberikan kesempatan timbulnya masalah atau persoalan baru. Ini berarti bahwa uraian yang dikemukakan harus tegas dan konsisten antara bagian laporan yang satu dengan bagian yang lainnya.
Laporan harus tepat pada waktunya. Agar pimpinan dapat menentukan kebijaksanaan selanjutnya dan dapat menyelesaikan masalah dengan benar maka ketepatan waktu penyampaian laporan harus benar-benar diperhatikan. Laporan harus diusahakan secepat-cepatnya dibuat dan disampaikan kepada pimpinan. Tidak tepatnya waktu penyampaian suatu laporan berarti tindakan korektif yang harus diambil ataupun follow up-nya akan mengalami keterlambatan. Hal ini akan mengakibatkan hal yang negatif pada organisasi.
Laporan harus tepat penerimaannya. Laporan pada dasarnya mengandung pengertian komunikasi timbal balik antara yang memberi laporan dengan penerima laporan atau antara atasan dan bawahan. Di satu pihak atasan ingin mengetahui sampai di mana pelaksanaan tugas yang telah diberikannya, dan di lain pihak bawahan ingin mengetahui atau mendapatkan respon dari atasan atas laporannya serta bagaimana follow up dari laporan tersebut. Oleh karena itu, laporan harus benar-benar sampai kepada yang memintanya. Laporan yang tidak sampai kepada sasarannya dan sampai kepada orang yang tidak berhak membacanya, akan menimbulkan masalah yang tidak diinginkan, misalnya terjadi kebocoran rahasia, laporan bagi yang memintanya sudah tidak ada nilainya lagi, dan penilaian negatif oleh atasan terhadap bawahan bersangkutan
Strategi Pelaporan
Sebelum melakukan laporan, ada beberapa pertanyaan panduan, seperti:
- Apakah laporan disiapkan untuk tujuan audit?
- Apakah data disiapkan untuk menundukung investigasi tugas pembelajaran yang tidak lengkap?
- Apakah laporan bertujuan untuk mendemonstrasikan dampak dari pembelajaran Anda pada sebuah organisasi?
Biasanya laporan hanya dilakukan untuk memenuhi poin 1 dan 2, meskipun saat ini penting untuk melakukan laporan kualitatif seperti pada poin 3 dan laporan yang mendukung poin 4. Laporan-laporan pada poin 3 dan 4 menjelaskan hal yang sedang dilakukan. Apabila laporan dilakukan mulai dari poin 3 dan 4, hal tersebut merupakan langkah awal yang cukup baik.
Manajemen Risiko
Dalam dunia pendidikan kita mengenal istilah manajemen pendidikan yang dilakukan sekolah untuk mengembangkan mutu sekolah, manajemen risiko merupakan salah satu hal wajib yang harus dilakukan dalam merencanakan program sekolah. Manajemen risiko haruslah menjadi satu kesatuan bagian yang tak terpisahkan dari pelaksanaan sistem manajemen di sekolah. Labombang (2011: 39) berpendapat bahwa walaupun suatu kegiatan telah direncanakan sebaik mungkin, namun tetap mengandung ketidakpastian bahwa nanti akan berjalan sepenuhnya sesuai rencana.
Dalam Prinsip Dasar Manajemen risiko (2019:3) Manajemen risiko adalah metode yang tersusun secara logis dan sistematis dari suatu rangkaian kegiatan; penetapan konteks, identifikasi,analisa, evaluasi, pengendalian serta komunikasi risiko.
Risiko dalam sebuah program merupakan sebuah langkah awal yang dapat dilakukan untuk mengantisipasi segala sesuatu yang kemungkinan besar dapat terjadi, termasuk juga dalam merencanakan dan melaksanakan program pendidikan. Oleh karena itu, sekolah sebagai lembaga pendidikan wajib melakukan rangkaian analisis dan metodologi yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, mengendalikan dan mengevaluasi risiko yang mungkin timbul dari pelaksanaan program sekolah.
Risiko tidak dapat dihindari tetapi dapat dikelola dan dikendalikan karena apabila risiko tidak dikelola dengan baik maka akan mengakibatkan kerugian serta hambatan, sehingga program sekolah yang telah direncanakan tidak berjalan dengan baik Begitu pula sebaliknya apabila risiko dapat dikelola dengan baik maka sekolah dapat meminimalisir segala kerugian yang dapat menghambat jalannya program sekolah yang telah direncanakan.
Risiko merupakan sesuatu yang memiliki dampak terhadap pencapaian tujuan organisasi. beberapa tipe risiko di lembaga pendidikan, meliputi:
- Risiko Strategis, merupakan risiko yang berpengaruh terhadap kemampuan organisasi mencapai tujuan
- Risiko Keuangan, merupakan risiko yang mungkin akan berakibat berkurangnya aset
- Risiko operasional, merupakan risiko yang berdampak pada kelangsungan proses manajemen
- Risiko pemenuhan, merupakan risiko yang berdampak pada kemampuan proses dan prosuderal internal untuk memenuhi hukum dan peraturan yang berlaku
- Risiko Reputasi, merupakan risiko yang berdampak pada reputasi dan merek lembaga. (Princewatercoper, 2003)
Pada akhirnya perubahan-perubahan yang dilakukan sekolah akan menimbulkan suatu risiko, namun tidak melakukan perubahan pun merupakan sebuah risiko oleh karena itu setiap sekolah harus mengidentifikasi risiko dan merencanakan pengelolaannya. Apabila semua sekolah dapat menerapkan manajemen risiko maka setiap kerugian akan dapat diminimalisir. Adapun tahapan manajemen risiko adalah sebagai berikut:
- identifikasi jenis risiko,
- pengukuran risiko,
- melakukan strategi dalam pengendalian risiko
- melakukan evaluasi terus-menerus, maju dan berkelanjutan